Mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di Korea Kunjungi Penulis Indonesia Terkenal

2

Minji Bae

Halo, pembaca Ten Indonesia! Saya lagi Minji Bae dari Jurusan Bahasa Melayu-Indoneisa di HUFS, Seoul. Kali ini, saya ingin memperkenalkan aktivitas yang sangat unik dari Jurusan saya. ‘Fact Chaek’ adalah program yang memilih penulis atau buku terkenal Indonesia dan melakukan kunjungan humaniora. Namanya yang dibuat dengan menggabungkan ‘fakta’ dan ‘Chaek(‘buku’ dalam Bahasa Korea’ berarti ‘periksalah dunia ini yang sebelumnya hanya dilihat melalui buku sendiri’. 

Sayangnya, program yang dilaksanakan dengan dukungan universitas dan Dewan Mahasiswa selama dua tahun ini sekarang dihentikan sekarang karena pandemi Corona. Menurut pernyataan dari Dewan Mahasiswa, mahasiswa membaca buku-buku penulis asing yang dikenal secara internasional, menjelajahi tempat-tempat yang relevan dalam karya, dan menjelajahi karakter karya. Mereka dapat menumbuhkan kompetensi humaniora dan studi antropogeografi global seperti seni, agama, budaya, dan sejarah. Sebuah tim yang terdiri dari 4 anggota diberikan biaya dari sekolah dan menyiapkan laporan untuk diumumkan pada pertemuan laporan setelah kunjungan.

(Credit: http://main-ed.com/gallery/bali/ )

Hari ini saya ingin memperkenalkan tim yang mengunjungi Bali. Salah satu fitur sosial Hindu yang paling erat hubungannya dengan Bali adalah ‘sistem kasta’. Ketika ada pernikahan antara dua kasta yang berbeda, kasta perempuan disubordinasikan ke kasta laki-laki. Oleh karena itu, sulit untuk memahami cinta masyarakat Bali secara mendalam kecuali masalah perkawinan antar kasta yang berbeda. Untuk menyelesaikan rasa penasaran ini, empat siswa yang berjurusan Bahasa Indonesia mengunjungi Bali selama seminggu dan bertemu orang-orang untuk mendengarkan ceritanya. Objek wawancara beragam mulai dari penulis novel yang menantang tradisi seksis Bali, suami yang menikah dengan istri kasta yang lebih tinggi, istri yang menikah dengan suami dari kasta yang lebih tinggi, hingga warga wilayah sekitar di mana tidak ada kasta.

텍스트이(가) 표시된 사진

자동 생성된 설명

(Credit: http://main-ed.com/gallery/bali/ )

Pengarang Oka Rusmini adalah pengarang novel ‘Tarian Bumi’. Buku yang diterbitkan pada tahun 2000 ini berkisah tentang rasa sakit dan kebahagiaan seorang wanita Sudra dan Brahman, ‘Telaga’ dan ‘Sekar’ bertemu dan menikah dengan pria dari kasta yang berbeda. Dalam prosesnya, sistem kasta dan diskriminasi gender di masyarakat Bali ditulis secara telanjang. Penulis mengatakan bahwa ia mulai menulis novel dari kesadaran tentang isu-isu gender universal yang ada di seluruh dunia. Dengan kata lain, penulis berfokus pada aspek kekerasan di cinta orang Bali. “Buku ini adalah novel yang ditulis dengan asumsi tahun 1970-an, saat obsesi orang Bali terhadap kasta sangat kuat. Memang benar bahwa waktu yang lama telah berlalu. Tapi orang dunia dulu menggambarkan Bali sebagai tempat yang hanya indah dan internasional. Saya menulis ‘Tarian Bumi’ untuk mengatakan bahwa Bali bukan hanya tempat yang indah. Masalahnya selalu ada, masa dahulu dan sekarang.” ujarnya.

Selain Oka Rusmini yang menunjukkan adanya masalah dengan adat Bali, mereka juga mewawancarai beberapa warga Bali biasa yang tersebut di atas. Sementara sebagian besar orang Bali yang diwawancarai setuju bahwa kasta tidak lagi menjadi kendala yang menentukan dalam pernikahan dan cinta. Namun, mereka juga mengakui keberadaan kasta dan menyatakan keinginan untuk menjadi bagian dari kasta yang lebih tinggi jika memungkinkan. Mahasiswa HUFS tersebut tidak menilai hal ini sebagai baik atau buruk, tetapi melihatnya sebagai fenomena yang sangat manusiawi. “Melihat dari dekat cara orang mencintai di mana kelas terlihat dalam bentuknya yang paling langsung itu sendiri merupakan pengalaman yang memperdalam pemahaman orang,” tambah mereka.

Sejauh ini, program ‘Fact Chaek’ dan perjalanan mahasiswa yang berjurusan Bahasa Indonesia di HUFS pergi ke Bali diperkenalkan. Yang di atas adalah video YouTube bagi mereka yang ingin tahu lebih banyak. Program yang luar biasa ini memang merupakan kesempatan besar untuk memperluas pengetahuan humaniora dengan melihat dunia yang sebelumnya dialami melalui buku. Sebenarnya saya juga ingin ikut program ini, tapi sayang seklali malah tidak bisa melamar karena ada pandemi corona sekembalinya dari kuliah di Indonesia. Jika ada kesempatan, saya ingin memperkenalkan tim lain yang telah berangkat ke Jakarta dan Blitung!

2 COMMENTS

  1. Kereen, kalau bisa bahasa Indonesia + bahsa daerahnya.karena diasyarakat adat banyak cerita rakyat. Bali, Sunda, Jawa, Madura, Batak, Dayak, dll.

    Indonesia negara sangat kaya dengan sumber daya alam, budaya, bahasa, dan kuliner.
    👍👍👍