Kesamaan Korea dan Jakarta

1

By Ibu Eva Latifah

Hai pembaca setia tenindonesia. Waaa, sudah hari Sabtu aja ya. Ada rencana kegiatan apa hari ini? Semoga membaca tenindonesia dan rubrik Hai menjadi salah satunya ya. Saya sedang berbahagia sekali karena banyak pembaca rubrik Hai yang usul untuk menuliskan topik tertentu. Sungguh merupakan suatu kebahagiaan bila rubrik ini memberi semangat baru dalam melihat Korea, khususnya dalam perspektif orang Indonesia. Lewat komentar di website/IG tenindonesia atau usulan via japri, interaksi antara pembaca dan tenindonesia semakin terasa. Kita bisa sama-sama membangun komunitas yang positif antara Korea dan Indonesia. Setuju?

Nah, kali ini usul siapakah yang akan saya penuhi terlebih dahulu? Hmmm siapa ya?? Yang jelas, usulan tidak dipilih berdasarkan senioritas ya ahaha. Untuk rekan yang usulannya belum muncul, mohon tunggu di edisi-edisi berikutnya. Insya Allah tayang, sayang ^^*

Balik lagi ke topik. Bila sebelumnya kita sudah menelusuri Korsun, Koja, dan Kotak… saya ingin mengajak semua untuk menjelajahi ibukota Korea dan Indonesia. Betul! Apalagi kalau bukan Seoul dan Jakarta. Kalau ada yang penasaran apa kali ini ada singkatannya? Jawabannya, tentu saja ada. Saya akan menyebutnya “Kota”. Ada yang bisa tebak apakah itu “Kota”? Yuk sama-sama kita baca ^^*.

Kota, Lebih Dari Sekedar Korea dan Jakarta

Orang Korea yang belum tahu Indonesia biasanya menduga kalau Indonesia adalah negara yang sangat tertinggal (hiks hiks). Mungkin karena beberapa variety show Korea yang syuting di Indonesia banyak yang mengambil lokasi di hutan Kalimantan atau pedalaman lainnya. Jadilah dalam bayangan mereka, negara ini isinya hutan belantara semua. Bahkan, beberapa teman anak saya ada yang bertanya, “Apa kalian tinggal di hutan?”,  “Apa orang Indonesia punya handphone?”, “Di sana ada gedung bertingkat?”,  “Apa kalian punya mobil?” dst. Kata anak saya, “Waktu pelajaran geografi dan sejarah, memang kalian belajar apa aja?” 

Tidak banyak memang orang Korea yang tahu kalau beberapa mall di Jakarta ada yang lebih megah dari di Seoul. Tidak banyak yang tahu juga kalau  pertengahan 1970an, Indonesia (khususnya Jakarta), sedang menikmati kemakmuran akibat oil booming. Bila di Korea Namsan Tower selesai dibangun pada tahun 1975. Di Indonesia, pada tahun yang sama Monas pun diresmikan. Kedua “tower” ini menjadi simbol dari kedua “Kota”, Seoul dan Jakarta. Artinya, kita sebenarnya sama. Paling tidak dari perkembangan kota, Seoul dan Jakarta.

Berbicara soal kota, tidak lepas dari ciri fisik dan “mental”nya. Dalam bahasa Indonesia, kota berarti daerah pemukiman, daerah yang penduduknya padat, atau bisa juga berarti dinding atau tembok yang mengelilingi tempat pertahanan. Makanya, di dalam drama-drama sageuk kita akan melihat setting tembok yang dijaga prajurit untuk mengecek orang-orang yang keluar masuk kota. Dalam bahasa Korea, ada kosakata yang mirip dengan “kota”, yaitu 커타. Artinya “cutter”.   Sejenis pisau kecil yang biasa dipakai untuk memotong kertas atau lainnya dan termasuk ke dalam alat kantor atau sekolah. Ucapannya sebenarnya lebih frikatif (dalam istilah linguistic artinya suara atau bunyi desah) dari ucapan “kota”. Kalau dituliskan menjadi “khotha”. “Kota” cocok untuk menggambarkan tulisan ini karena mencakup dinamika yang terjadi di perkotaan, sekaligus persinggungan budaya asing dan local, seperti kata “커타” berasal kosakata asing. 

Oleh karena itu, kota dalam tulisan ini bisa dimaknai sebagai “Korea-Jakarta”.  Bisa berarti ciri fisik kota (yang nanti akan saya jelaskan). Dapat juga soal isu “lokal-asing” yang biasa dihadapi kota-kota besar. Ibukota kedua negara ini mengalami dinamika yang luar biasa dari awal keberadaannya. Ya, Seoul dan Jakarta sama-sama kota tua. Kota yang sudah ditinggali sejak jaman dahulu kala. 

Sejarah Kota

File:Souimun Gate, Seoul, Korea, est 1880.jpg - Wikimedia Commons
Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Souimun_Gate,_Seoul,_Korea,_est_1880.jpg

Ibukota adalah wajah sebuah negara. Posisi strategis menjadi penentu dipilihnya Seoul dan Jakarta sebagai ibukota. Posisi Seoul yang tepat berada di tengah Semenanjung Korea menjadi ditetapkannya sebagai pusat ibukota, sejak jaman kerajaan dahulu kala. Menurut laman seoul.go.kr, Seoul bahkan sudah ditinggali sejak jaman neolitikum (Batu Muda), sekitar 8000-7000 SM. Seoul memang mewakili semenanjung Korea karena warisan budaya dari lima Dinasti yang pernah memerintah Korea dapat ditemukan di sana. Hal inilah yang menjadikan Seoul sebagai kota yang mempesona. Meski sebagian ada yang merupakan replica, bukan wujud aslinya, tetapi nuansa tradisional dan modern dapat dirasakan secara bersamaan di Seoul. Gyeongbokgung pernah terbakar saat perang Imjin pada tahun 1592. 300 tahun kemudian, istana cantik ini sempat dibangun kembali, tetapi kembali hancur saat masa penjajahan Jepang. Saat ini, Gyeongbokgung yang menjadi ikon pariwisata Seoul. Upaya untuk menampilkan kembali jejak-jejak sejarah kota Seoul sangat perlu diapresiasi. Tembok yang mengelilingi kota Seoul (Seoul Fortress), yang bernama awal 서울 한양도성, misalnya, pernah dibongkar saat penjajahan Jepang dan terkena proyek perencanaan kota. Tetapi upaya restorasi dan pelestarian tembok ini dilakukan pada masa Presiden Park Chung-hee.

Sama seperti Jakarta yang mengalami pergantian nama, Seoul juga demikian. Uniknya di dalam namu.wiki, tertulis infografis perubahan nama Seoul yang terkait angka 50. Tahun 550 bernama Nampyeongyang, tahun 1550 menjadi Hansong, dan 1950 ditetapkan menjadi Seoul hingga sekarang. Bila di dalam drakor sageuk pernah mendengar kata Hanyang, ini pun nama lain dari Seoul yang digunakan pada masa Dinasti Joseon. Menurut https://brunch.co.kr/@seoulhada/3, Seoul merupakan satu-satunya nama tempat yang murni dari bahasa Korea. Hal ini yang juga membuat asal mula dari kata Seoul beragam. Yang paling banyak dikutip adalah pernyataan bahwa asal mula kata Seoul dari nama ibukota Shilla, Seourabol, lalu kemudian berubah menjadi Seoul. 

Selain wisata tradisional bernilai sejarah, Seoul juga menyediakan banyak fasilitas yang dapat dikunjungi secara gratis. Untuk menikmati keindahan dan fasilitas kota, warga tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam. Salah satu tempat favorit keluarga adalah 어린이대공원 atau Children Grand Park. Ada banyak fasilitas yang dapat dinikmati di sana, misalnya taman bunga, taman binatang, dan arena permainan (baik yang gratis maupun berbayar). 

Permasalahan Kota

Traffic jam at dusk in seoul, south korea photo image_picture free download  501569403_lovepik.com
Sumber: https://lovepik.com/image-501569403/traffic-jam-at-dusk-in-seoul-south-korea.html

Selain kesamaan sejarah, seperti ibukota pada umumnya, Seoul dan Jakarta sama-sama memiliki permasalahan khas kota, seperti kemacetan, kepadatan penduduk, sanitasi, kualitas hidup, dan kesenjangan sosial. Isu kesenjangan sosial ini apik diangkat dalam film Korea peraih Oscar 2020, “Parasite”. Pada kehidupan nyata, Seoul masih memiliki PR ini. Di sana terdapat slum area yang tidak jauh dari wilayah megah, Gangnam. Jeong-Ho Lee (2020) di dalam artikel yang ditulis di Bloomberg.com menyebutkan bahwa Guryong village yang lokasinya dekat dengan Gangnam menjadi satu bukti kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin. Kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi ini bahkan pernah menjadi pemicu pembakaran Suryemun (pintu bersejarah yang mirip dengan Dongdaemun) pada tahun 2008. Pelaku mengaku bahwa dia tidak puas atas kompensasi atas penggusuran tanah miliknya.

Selain isu ekonomi di atas, permasalahan antara penduduk asli dan pendatang juga menjadi masalah klasik di Seoul dan Jakarta. Seoul memang kota yang menarik untuk mengadu nasib. Kesenjangan Seoul dengan no-Seoul dalam hal akses pendidikan, kesehatan, fasilitas musium, dan kesempatan lain menjadi satu faktor yang mendorong orang untuk ke Seoul. Bahkan dalam hal  peringkat universitas bergengsi bukanlah perkara PTN atau tidak, tetapi Seoul atau bukan. 서울 중심주의 Seoul jungsimjui atau  Seoul sentris merupakan pandangan yang ada sejak lama. Salah satu peribahasa Korea berbunyi 사람은 나면 서울로 보내고 말(馬)은 나면 제주로 보내라 yang kirimlah anak ke Seoul dan kuda ke Jeju. Maknanya bila sejak kecil anak dikirim ke Seoul maka akan tumbuh dengan baik, sedangkan binatang (kuda) harus dipelihara di Jaeju agar berkembang dengan baik. 

Penempatan Seoul sebagai tempat yang “lebih tinggi” juga terlihat dari kata “내리다” nerida yang berarti turun. Kata ini dipakai salah satunya saat mengatakan “명절에 시골 내려가?” yang artinya “saat hari raya apa kamu turun ke kampung?” Kata ini menunjukkan bahwa Seoul berada di atas, sementara wilayah lain di bawah.

Seoul Saram dan Betawi

GD merupakan selebriti asal Seoul / Sumber: https://www.pinterest.ch/pin/349591989812097608/

Penduduk asli Jakarta adalah suku Betawi. Adapun di Seoul, sebutan untuk orang Seoul adalah Seoul Saram. Saram artinya orang. Sebenarnya makna dari Seoul saram sekarang lebih melebar, bisa berarti orang yang lahir di Seoul, dapat juga berarti orang yang tinggal di Seoul. 

Sebenarnya ada ciri dari bahasa Betawi yang mirip dengan bahasa Korea, khususnya Seoul saturi, yaitu berakhiran “e”. Orang Betawi Kemayoran mempunyai ciri akhiran “siape”, “di mane”, “ape”, “pokoknye”, “iye”, mirip dengan bahasa Korea banmal (ragam akrab) “saranghe”, “andwe”, “geursse”, “phiryuhe”, dsb. Bahasa Betawi dengan contoh tadi, juga punya nuansa akrab dan dekat. Mirip, ya? 

Menjadi Perempuan Betawi yang Utuh?
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160822152837-278-153019/menjadi-perempuan-betawi-yang-utuh

Dari segi bahasa, cara bicara Seoul saram dengan Betawi terdengar lebih keras dan cepat.  Mungki karena kehidupan kota yang cepat dan sibuk membuat cara berbicara orang kota, ucapan Seoul dan Jakarta, menjadi lebih cepat dari yang lain. Selain itu, seperti bahasa Betawi atau logat Jakarta yang menjadi bahasa standar, Seoul saturi (logat/bahasa Seoul) bahasa standar yang umum dipakai dalam acara-acara TV, drama, atau siaran lain. Selain itu, orang luar Seoul juga melihat bahwa gaya bicara orang Seoul adalah keren. Banyak kosakata Seoul yang diikuti tanpa disadari, misalnya kata 아기 /agi/ menjadi 애기 /egi/ yang berarti “anak”. 

Adakah persamaan lain? Secara bercanda, teman orang Betawi bilang, Korea dan Betawi juga sama-sama minum bir. Di Betawi ada Bir Pletok. Walaupun bernama bir, minuman ini bukan minuman memabukkan. Ternyata, di Korea juga sudah ada minuman tradisional Makkeolli yang tidak mengandung alcohol. Kalau Bir Pletok memang sejak awal bukan minuman beralkohol, Makkeolli awalnya adalah minuman beralkohol. Tetapi belum lama, Korea mengembangkan minuman Makkeolli non-alkohol. Namanya, Subeul-Subeul. Agak mirip ga siy, Bir Pletok dan Subeul-Subeul? 

A picture containing text, toiletry, lotion

Description automatically generated

Dari penjelasan di atas, dapat terlihat bahwa Kota (Korea dan Jakarta), memiliki banyak persamaan. Selain persamaan sejarah, bahasa, dan minuman, kesamaan permasalahan kota perlu dicarikan jalan keluar bersama. Permasalahan kesenjangan kota desa terbangun karena kota dianggap sebagai pusat peradaban, dalam bahasa Korea, Seoul jungsimjui. Sebelum saya tutup tulisan kota ini, saya ingin mengutip Budianta (2020) yang menyatakan bahwa arus balik peradaban perlu dibuat. Bila sebelum kota menjadi pusat, maka kampung/desa perlu dijadikan lumbung pengetahuan. Dengan begitu, baik Seoul maupun Jakarta tidak akan terlalu berat memikul beban ledakan penduduk dengan segala permasalahannya.

Instagram: @evalova33

Email: eva.latifah@ui.ac.id

1 COMMENT