[HAi] Owol, Si Bulan Mei

0

By Ibu Eva Latifah

Cinta dimulai dari metafora.  Lee Giju (2016) dalam buku berjudul언어의 온도 ono-e ondo atau “temperatur bahasa” mengungkapkan bagaimana cinta dapat berbeda bergantung pada cara pengungkapannya. Sesuai judulnya, kumpulan esai Lee ini menyoroti beragam hal dalam kehidupan dan mengaitkannya dengan bahasa. Menurut Lee, kata-kata dalam bahasa sejatinya mempunyai temperature. Bisa hangat atau dingin.  Bulan Mei salah satunya. 

Bagi orang Korea, Mei adalah bulan keluarga. Karena pada bulan ini, beberapa tanggal menjadi angka penting bagi anak, orang tua, guru, orang dewasa, atau pasangan suami istri. Tidak mengherankan bila Lee mengatakan bahwa bulan Mei adalah “ratu”nya bulan. Bulan yang paling disuka. Lee mungkin juga mewakili pendapat masyarakat Korea pada umumnya yang mencintai bulan Mei. 

Mitos dan Akar Kata Mei

Dalam bahasa Korea, bulan Mei disebut dengan 오월 atau Owol. O artinya lima dan wol bermakna bulan. Sebagai nama salah satu bulan dalam setahun, Owol juga digunakan sebagai metafora bagi adanya sikap saling memusuhi satu sama lain. Hal ini bermula dari hubungan permusuhan antara negara O dan Wol yang berlangsung untuk waktu yang panjang.

Dalam bahasa Indonesia, Owol disebut dengan Mei. Mei diambil dari bahasa Inggris May. May rupanya terinspirasi dari nama seorang wanita bernama Maia yang merupakan ibu dari Hermes dalam mitologi Yunani. Bila dicermati, benang merah bulan Mei dalam masyarakat Korea dan Barat ada pada nuansa feminis yang terkandung di dalamnya. 

Bulan Mei bagi Korea

Keistimewaan bulan Mei bagi masyarakat Korea dapat dilihat dari banyaknya perayaan yang dilakukan pada bulan ini. Bahkan, orang asing yang tinggal di Korea juga dapat merasakan vibes dari perayaan tersebut. Acara TV, festival, diskon produk, spanduk, paket wisata, makanan, dsb secara serempak menyuarakan peringatan hari-hari penting tersebut. Bisa dibayangkan betapa serunya bulan Mei ini jika dilihat dari sebagian daftar perayaan penting berikut:

5 Mei 🡪Hari Anak

8 Mei 🡪 Hari Orangtua

15 Mei 🡪 Hari Guru

21 Mei 🡪 Hari Pasangan Suami-Istri

Bulan Mei tidak akan terlihat sepi atau sunyi. Suka cita dapat ditemukan di awal, tengah, atau bahkan akhir bulan. Sebenarnya ada beberapa tanggal lain yang juga dirayakan pada bulan Mei, tetapi dalam tulisan ini penulis fokuskan pada empat tanggal di atas. Dengan sejarah kemunculan yang berbeda, bisa dimengerti bagaimana tanggal-tanggal ini menjadi penuh makna. 

Hari Anak

Hari anak di Korea mulai dirayakan sejak tahun 1923. Tidak jauh dari peristiwa penting dalam sejarah bangsa Korea, 삼일 운동samil undong. Samil undong adalah peristiwa penolakan sangat massif dan besar terhadap penjajahan Jepang yang terjadi pada tanggal 1 Maret 1919. Sayangnya, gerakan ini dapat digagalkan pihak Jepang. Kesuraman dari kegagalan upaya untuk melepaskan diri dari Penjajahan Jepang tidak ingin ditularkan pada anak-anak yang hidup pada masa itu. Oleh karena itu, untuk menghibur dan menanamkan kebahagiaan bagi anak-anak, sejak 1923 dimulailah perayaan Hari Anak (aks.ac.kr)

Perayaan Hari Anak dipelopori oleh Sekdonghwe, yaitu kelompok pecinta anak yang dibentuk oleh mahasiswa Korea yang sedang kuliah di Jepang pada saat itu. Awalnya, Hari Anak dirayakan setiap tanggal 1 Mei. Setelah kemerdekaan Korea pada 1945, Hari Anak dirayakan tiap tanggal 5 Mei. Pada tahun 1948, dibuatlah lagu anak yang hingga saat ini khusus dinyanyikan setiap peringatan Hari Anak. Sejak 1975, Hari Anak ditetapkan sebagai hari libur nasional. Bahkan, sejak 2018, ada ketentuan yang menyebutkan bahwa bila hari anak jatuh pada akhir pekan atau hari libur lainnya maka libur nasional Hari Anak akan ditambahkan pada hari berikutnya. Pada tahun 1983, pemerintah kota Seoul pernah merayakan Hari Anak secara meriah di Stadion Seoul dan dihadiri oleh 21.000 orang yang 15.000 di antaranya adalah anak-anak. 

Gambar 1. Peringatan Hari Anak ke 61 pada tahun 1983. Sumber: the Academy of Korean Studies

Hari Orang Tua

Hari Orang Tua yang diperingati di Korea tiap tanggal 8 Mei mulai dirayakan pada tahun 1973. Hari Orang Tua ini mengambil ide yang sama dengan Hari Orang Tua di Amerika Serikat yang merupakan gabungan dari Hari Ibu dan Hari Ayah. Bermula pada tahun 1956, tanggal 8 Mei sejatinya dirayakan sebagai Hari Ibu. Sempat dirayakan sebagai Hari Ayah, sejak tahun 1973 tanggal 8 Mei untuk selanjutnya dirayakan sebagai Hari Orang Tua (encykorea.aks.ac.kr). 

Hari Orang Tua dirayakan sebagai bentuk dukungan terhadap orang tua yang penghormatannya makin memudar tergerus oleh arus urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena orang tua tunggal juga menjadi salah satu perubahan yang muncul di era tahun 1970an. Seperti diketahui, tahun 1970an dikenal sebagai tahun industrialisasi. Perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat yang bertumpu pada industri dan komersialisasi tak urung membuat pergerseran dalam tata nilai di sana. Keprihatinan akan hilangnya rasa hormat terhadap orang tua yang menjadi ciri masyarakat penganut Konfusianisme inilah yang mendorong lahirnya gerakan untuk berterima kasih kepada orang tua. 

Pada hari ini, orang Korea biasanya memberikan bunga anyelir dan hadiah kepada orang tua dan kakek nenek mereka sebagai ungkapan sayang dan bakti. Selain terhadap keluarga, perayaan Hari Orang Tua juga dilakukan dengan mengunjungi para lansia di panti jompo. Perayaan dimeriahkan dengan menggelar permainan rakyat dan pertunjukan music tradisional. 

Hari Guru

Hari Guru dirayakan sebagai bentuk penghormatan dan upaya untuk meningkatkan status social guru di masyarakat. Tujuannya tak lain adalah menciptakan iklim yang menjunjung tinggi posisi guru. Hari Guru bermula pada tahun 1963 dan dirayakan setiap tanggal 26 Mei. Akan tetapi, sejak tahun 1965 tanggal perayaan diubah menjadi tanggal 15 Mei. Hal ini disesuaikan dengan tanggal kelahiran Raja Sejong. Namun demikian, Hari Guru pernah dihapuskan pada tahun 1973 atas alasan kebijakan perpolitikan yang baru. Hingga kemudian pada tahun 1982, Hari Guru kembali dihidupkan untuk memberikan penghormatan terhadap para pahlawan tanpa tanda jasa. Pada hari ini, biasanya dilaksanakan upacara untuk memberikan penghargaan terhadap para guru yang berprestasi. Bahkan, pemerintah memberikan hadiah kepada para penerima penghargaan untuk  studi banding ke instansi dalam dan luar negeri (www.archives.go.kr)

Selain pemerintah, ikatan alumni, organisasi perempuan, atau ormas juga melakukan acara pemberian tanda jasa pada para guru. Yang paling menarik adalah adanya “Gerakan Menemui Guru” sebagai langkah untuk merekatkan kembali tali kasih antara guru dan murid. Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah dengan mencari guru yang telah pensiun, khususnya para guru yang sakit atau sedang menghadapi kesusahan, untuk diberikan dukungan.

Contoh kegiatan lainnya adalah “Malam Pemberian Tanda Jasa”. Acara seperti ini biasanya dilakukan oleh alumni bekerja sama dengan siswa atau mahasiswa aktif. Guru-guru aktif maupun yang telah pensiun diundang untuk diberikan penghargaan dan disematkan bunga anyelir. Acara umumnya juga dimeriahkan dengan Kuliah Umum atau Diskusi tentang peran guru. 

Hari Pasangan Suami-Istri

Hari Pasangan Suami-Istri diprakarsai oleh pasangan suami-istri Gwon Jedo pada tanggal tahun 1995. Kemudian pada 18 Desember 2003, permohonan Hari Pasangan Suami-Istri disetujui dan ditetapkan oleh Sidang Paripurna DPR. Keputusan bahwa tanggal 21 Mei sebagai Hari Pasangan Suami-Istri baru diketok palu pada than 2007. Meski bukan merupakan hari libur nasional, adanya hari khusus untuk memperingati pasangan menunjukkan dukungan pemerintah terhadap keharmonisan keluarga di Korea. 

Seperti kita ketahui, angka pernikahan di Korea tergolong kecil, sementara tingkat perceraian di Korea Selatan termasuk tinggi. Berdasarkan data yang dikeluarkan Kosis (seperti BPS) tahun 2020, angka pernikahan mengalami penurunan sebanyak 10.7% dan angka perceraian berkurang sebanyak 3.9% dibanding tahun sebelumnya. Adanya peringatan Hari Pasangan diharapkan dapat membantu mengurangi jumlah perceraian setiap tahunnya.

Ada 10 nasihat pernikahan yang ditekankan melalui perayaan hari pasangan ini. Pertama, Jangan marah secara bersamaan. Kedua, Jangan berteriak di rumah kecual saat terjadi kebakaran. Ketiga, jangan lihat kekurangan pasangan dan jangan menyalahkan. Keempat, jangan membandingan pasangan dengan yang lain. Kelima, jangan mengorek luka. Keenam, jangan bawa amarah ke tempat tidur. Ketujuh, jangan lupakan saat pertama kali jatuh cinta pada pasangan. Kedelapan, jangan menyerah. Kesembilan, jangan menyembunyikan sesuatu. Terakhir, berupayalah untuk menutupi kesalahan pasangan dan saling mengisi. 

Penutup

Bila cinta adalah metafora maka Owol adalah waktu pengungkapannya. Cinta dalam owol dirayakan untuk semua usia. Oleh karena itu, mengutip kembali apa yang dituliskan Lee Giju, tidak ada salahnya untuk mengucapkan rasa sayang dengan cara berbeda. Salah satunya adalah당신은 5월을 닮았군요 dangsineun oworeul dalmatkun-yo “Kamu laksana bulan Mei”. 

Salam untuk cinta

Duhai

bulan Mei

yang tak terhenti 

di tahun ini saja