Kehidupan di antara Dua Budaya Indonesia-Korea, Simak Kisah Meta Berliyanti Di sini!

3

Hai para pembaca Ten Indonesia! Bagaimana kabar kalian? 

Sebelumnya, perkenalkan nama saya Meta Berliyanti, saya lahir di antara keluarga dari dua negara, yaitu Korea dan Indonesia. Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai kehidupan saya. Yuk, disimak ya! 

Saya lahir dan dibesarkan oleh ayah warga negara Korea dan ibu warga negara Indonesia. Sungguh menyenangkan memiliki keluarga dari dua negara yang berbeda karena saat berkunjung ke kampung halaman ayah, saya bisa sekaligus berlibur ke luar negeri. Asyik bukan? 

Saya dapat mempelajari budaya Korea dan Indonesia secara bersamaan dan dari perbedaan itu, saya dapat mengambil sisi positif yang menjadikan diri saya lebih baik di masa mendatang. Karena bagi saya, perbedaan bukan sesuatu yang menyeramkan, namun menantang. 

Saya merasa bahwa dengan adanya perbedaan budaya di dalam keluarga, saya menjadi pribadi yang lebih toleran. Ada masa ketika saya harus mengikuti kebudayaan Korea dari Ayah, dan ada masanya juga saya harus mengikuti kebudayaan Indonesia dari Ibu.

Pada perayaan Chuseok, yaitu hari perayaan atas rasa syukur terhadap hasil panen, biasanya kami berkumpul bersama keluarga dan membuat makanan khas songpyeon, kue beras ala Korea berisikan biji wijen, kacang merah, chestnut, dan bahan lainnya. Di hari tersebut, saya harus ikut serta merayakannya bersama ayah dengan melakukan makan bersama. Pada perayaan Chuseok, biasanya keluarga menyiapkan berbagai macam makanan, buah dan berbagai minuman, yang jumlahnya cukup banyak untuk memenuhi meja dan dipergunakan untuk ritual kepada nenek moyang. Ritual ini biasa disebut dengan Charye. Sementara itu, saya juga turut menyambut dan merayakan hari besar umat Muslim di Indonesia, seperti Hari Raya Idul Fitri.

Mempelajari perbedaan budaya adalah hal yang sangat menyenangkan, namun satu hal yang sangat disayangkan adalah ketika saya harus menjalani hubungan jarak jauh dengan nenek dan kakek yang berdomisili di Korea. Dengan jarak yang terbentang jauh antara Korea dan Indonesia, saya hanya dapat mengunjungi kakek dan nenek satu kali dalam setahun. 

Kadang saya merasa sedih melihat kakek dan nenek karena mereka kerap merasa iri dengan teman sebayanya yang sering bepergian dengan cucunya atau merayakan hari penting bersama. Mereka juga tidak dapat berkunjung saat saya berulang tahun dan memakan sup rumput laut bersama. 

Ada kalanya di mana saya diharuskan untuk memilih, misalnya pada tahun 2010 silam di mana Chuseok dan bulan Ramadhan datang pada bulan yang sama yaitu bulan September. Pada saat itu, saya sedang melakukan ibadah puasa namun tetap harus merayakan perayaan chuseok dengan Ayah saya. 

Saya sangat bangga dengan sikap toleransi yang diterapkan dalam keluarga saya. Meskipun perbedaan itu selalu ada, namun kami tetap saling menghargai dan menghormati tanpa ada rasa dengki. 

Memiliki keluarga lintas budaya rasanya sama saja seperti kehidupan keluarga lainnya. Meskipun saya dilahirkan di keluarga dengan dua budaya, namun hal tersebut bukanlah tantangan bagi saya untuk menjalani hidup. Justru saya dapat mempelajari banyak hal menarik dan menjadikannya pelajaran untuk diri sendiri agar dapat terus menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang. 

Bagi para pembaca Ten Indonesia, bagaimana menurut kalian? 

Yuk sharing pendapat kalian di bagian reply!

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here