Netizen Pertanyakan Hati Nurani Keluarga Goo Hara yang Ngotot Minta Hak Waris Harta

5

Meski hampir setahun sejak kepergian Goo Hara, namun nampaknya perselisihan antara kakak Goo Hara yang kini sedang berjuang untuk mengesahkan Undang-undang Goo Hara. Dalam pemberitaan sebelumnya (klik di sini), Ibu Goo Hara menyuarakan ketidaksetujuannya untuk undang-undang ini, kini bibi Goo Hara juga ikut tidak setuju terhadap undang-undang untuk mendukung diberlakukannya pencabutan hak waris orang tua atau anak-anak jika terjadi kasus pengabaian kewajiban seperti yang telah dirasakan Goo Hara dan sang kakak.

Dalam program Expectation Report Seven yang disiarkan TV Chosun pada tanggal 23 Agustus lalu menampilkan pemberitaan mengenai Ibu Goo Hara, A, yang tidak setuju dengan undang-undang Goo Hara. Ibu kandung Goo Hara mengatakan, “Aku tidak setuju (dengan undang-undang Goo Hara.) Setiap keluarga memiliki alasannya sendiri, dan setiap orang memiliki pendapatnya sendiri. Meski ada sesuatu yang ingin kukatakan, aku hanya menutup mulut tanpa berkata apa-apa.”

A mengungkapkan ketidakadilan yang ia rasa dengan mengatakan, “Saat aku melakukan kesalahan pada waktu itu, harusnya aku membawa anakku ikut bersamaku.” Ketika ditanya alasannya tidak pernah menghubungi kedua anaknya itu, A mengatakan, “Kondisiku secara finansial tidak baik dan aku juga sakit-sakitan.”

Ketika reporter kembali bertanya mengenai hak waris Goo Hara yang diminta, A menyalahkan sang kakak yang merupakan bibi Goo Hara karena sampai menyewa pengacara. A mengatakan ketika dirinya menangis di depan aula pemakaman, sang kakak menelpon dan mengatakan bahwa ia kenal pengacara yang mampu mengurus masalah ini dan menyuruh A untuk menghubunginya.

Selain itu, kakak A yang juga bibi Goo Hara yang dihubungi tim produksi menangis dalam sambungan telepon sambil mengatakan, “Saat itu aku ingin setidaknya melepas Hara seperti keluarga lainnya yang menggunakan seragam berkabung, namun aku diusir.”

Ia melanjutkan, “Aku berkata kepada pengacara bahwa sepertinya mereka (keluarga Goo Hara yang diwakili kakak kandung) mengusir karena pasti mengira kalau kami gila harta. Ketika aku bertanya (kepada pengacara) ‘apa yang harus kita lakukan?’ pengacara berkata bahwa undang-undang sekarang ada hukum yang mengharuskan membagi warisan secara merata kepada orang tua.”

Ketika tim produksi bertanya apakah dirinya sebagai orang tua memenuhi syarat mewarisi harta meskipun A tidak membesarkan maupun membayar tunjangan anak-anaknya, kakak A mengatakan, “Tentu saja kami harus melakukannya sesuai dengan hukum negara,” dan menambahkan, “Memangnya anak lahir dengan sendirinya? Maka dari itu tentu saja kedua belah pihak harus berbagi.”

This image has an empty alt attribute; its file name is AfoCG6GF7NRJY7sowKMRquYpBJcB1yco1qvgDisWwAdKt5AYuh59kSxAzNXCOTv-0MT2foC62E8NerrkZ7z36Wfig8TcaocsIx0ri6OGrg2K1ID93CfhzpXE4WLYEgfdfgzMot8

Ibu kandung Goo Hara muncul untuk pertama kalinya setelah kepergian Goo Hara tahun lalu dalam lebih dari 20 tahun dan bersikeras untuk mendapatkan hak waris dari mendiang sang putri. Jika mengikuti hukum perdata di Korea Selatan, ibu kandung Goo hara adalah pewaris pertama yang berhak mendapatkan warisan hasil bagi dengan ayah kandung Goo Hara meskipun ia lalai dalam tugas membesarkan anak. Hingga saat ini, Undang-undang Goo Hara yang disuarakan sang kakak masih dikaji.

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here